August 16th, 2006
Sampai Bertemu di Worpress-ku POSTED AT 01:23 PM Pembaca yang budiman dapat melanjutkan untuk mengikuti berbagai tulisan gue dengan mengakses aresto.wordpress.com Terima kasih You're thinking...
|
|
June 28th, 2006
Ayo Kemping! POSTED AT 02:36 PM Weekend kemaren sekali lagi gue dapet pengalaman luar biasa. Setelah tak sabar menunggu hari-H dan sempat cemas karena terdaftar sebagai cadangan, alhamdulillah gue berkesempatan untuk ikutan Ayo Kemping : Outing Anak Dhuafa & Anak Jalanan dan Dhuafa. Inilah kegiatan akbar pertama gue sebagai relawan KKS Melati, dan gue seneng banget waktu tahu dikasih kepercayaan untuk jadi salah satu relawan pendamping. Jadi relawan pendamping itu artinya gue diminta untuk mendamping satu kelompok anak selama kegiatan Ayo Kemping. Memastikan mereka mengikuti peraturan, pulang dengan selamat, dan mendapatkan pelajaran berharga dari kegiatan outing itu. Wah, ngebayangin bakal bertanggung jawab terhadap lima orang anak dalam sebuah kegiatan outdoor gitu bikin gue kebat-kebit sambil merancang rencana apa saja yang harus gue lakukan. Akhirnya gue putusin untuk fokus pada memfungsikan mereka sebagai kelompok yang solid sehingga bisa mandiri. Sama seperti Uyo, gue kebagian anak2 dari rumah singgah Sekar di daerah Tanjung Priuk. Setelah sampai di sana, ternyata dari 5 anak yang terdaftar di list awal yg gue pegang cuma 1 anak yang jadi ikut. Tapi, kemudian kelompok gue ditambah 2 anak yang baru daftar sehingga total ada 3 anak yang jadi tanggung jawab gue. Ada Jaka dan Jaji yang kelas 6, dan Marcel yang masih kelas 4. Sejak di tronton selama perjalanan, gue langsung yakin bahwa nih weekend bakal meriah dengan tingkah polah anak2. Sepanjang jalan menuju Ciawi, anak2 itu dengan semangat menyanyikan medley lagu2 khas pengamen bis kota: koleksi Radja, Ungu, Samsons, dan Peterpan. Apalagi ada satu anak yg mahir sekali dengan gitar sehingga begitu abis satu lagu, tanpa jeda dia sudah memainkan intro lagu berikutnya. Begitu masuk kawasan Puncak, anak2 itu memusatkan "energi"nya untuk berebut melongok keluar tronton. Sesuai rencana gue, begitu nyampe di Cilember, gue minta kelompok gue untuk memilih salah satu sebagai ketua. Kemudian dengan persetujuan mereka gue kasih nama kelompok gue "Tiga Singa" lengkap dengan yel "Auum..auuum..auum". Di awal-awal kegiatan terutama ketika trekking ke air terjun gue sempet ngerasa gue cerewet banget. Dikit-dikit bilang "awas ini.." lah ,"jangan itu.." lah. Soalnya gue gugup juga disuruh tanggung jawab 3 anak kecil. Terus setlah gue pikir2, gue inget pernah baca artikel tentang penelitian yang mengungkapkan kalo imunitas anak-anak di negara dunia ketiga berlipat kali dibanding kawan2nya di negara-negara maju karena sudah biasa terekspos lingkungan yang lebih keras. Setelah mikir gitu, gue lebih tenang dan mkembiarkan mereka bebas bermain dalam batas-batas yang gue bikin longgar. Apalagi gue tahu dengan keseharian mereka, mereka malah mungkin lebih tough dalam hal survival dan bermain-main dengan bahaya. Sepanjang kegiatan, gue jadi tahu banyak tentang Jaka, Jaji, dan Marcel. Ternyata ketiganya anak yatim dengan lebih dari dua bersaudara. Jaji menjalani keseharian dengan mengamen selepas sekolah, sementara Jaka dan Marcel walaupun hidup dalam kesederhanaan tidak diizinkan orang tuanya turun ke jalanan. Mereka banyak bercerita tentang lingkungan mereka sehari-hari dengan segala keprihatinan dan masalah masyarakat pinggiran. Sebagai respon, gue berusaha keras agar mereka tercerap ke dalam kegembiraan berbagai aktivitas selama outing. Gue sempatkan untuk bercerita tentang Nabi yang juga yatim, berusaha membahasakan agar mereka mengerti bagaimana pelangi terjadi dan kenapa kunang-kunang menyala, menutup kuping ketika mereka bilang malas sholat karena dingin dan kemudian memaksa mereka tayamum lalu sholat....rasanya tak butuh lama ketika gue sadar sebuah ikatan mulai terjalin di antara kami berempat. Di akhir outing, tak terbayang kebanggaan gue ketika tahu kalo Tiga Singa berhasil meraih predikat kelompok terbaik putra. Dari senyum dan lonjak-lonjak riang mereka, gue tahu banget kalo kemenangan dan pengakuan adalah sesuatu yang sangat penting bagi mereka. Gue ingin mereka pulang dengan mengingat bahwa selama mereka memelihara harapan, antusias dengan apa yang mereka lakukan, saling membantu dengan sesama, dan tak lupa meminta pada Yang Kuasa, kemenangan-kemenagan kecil ataupun besar pasti akan datang dengan sendirinya. Ini kegiatan akbar pertama gue sebagai relawan Melati, rasanya sudah ngga sabar untuk kegiatan-kegiatan berikutnya. Thanks ya kamerad Uyo, yang sudah mengajak gue ke dunia yang indah luar biasa. |
|
May 15th, 2006
The Kite Runner POSTED AT 02:26 PM Buku ini begitu dahsyatnya, sehingga untuk waktu lama semua buku lain terasa hambar Begitu testimoni yang tertulis di sampul The Kite Runner, dan begitu pula yang terasa saat gue selesai membaca buku karangan.... tersebut. Gue sudah baca banyak novel bagus, dan harus diakui kalau novel terbitan Qanita ini sukses mencuri tempat sebagai salah satu novel terindah yang pernah gue baca. The Kite Runner bercerita tentang kisah hidup seorang tokoh bernama Amir. Pria Afghan yang pada suatu titik hidupnya melakukan suatu kesalahan yang menghantui sepanjang hidupnya, dan pada titik yang lain mengambil keputusan untuk melakukan langkah berani demi menebus kesalahan masa lalunya. Amir kecil mengungsi bersama ayahnya ke Amerika ketika rezim komunis menjungkalkan kekuasaan monarki Afghan. Meninggalkan tanah air yang selama ini mengisi masa kecilnya, Amir pergi sambil membawa sebuah kenangan pahit. Kenangan ketika ketakutan, egoisme, dan rasa iri membuatnya mengkhianati seorang sahabat setianya. Amir bisa melakukan sesuatu,tapi dia memilih untuk membiarkan suatu kekejian menimpa sahabatnya. Di Amerika, Amir melanjutkan hidupnya. Suka duka mengiringi langkah Amir di negeri baru, tapi kenangan pahit yang dibawa dari Afghanistan tak pernah benar-benar meninggalkan Amir. Kadang dia datang dalam bentuk mimpi buruk yang mengingatkan Amirdan kadang ketika Amir ditimpa kemalangan, dia merasa itu bentuk hukuman dari kesalahan yang pernah dia perbuat. Hingga suatu hari, sebuah telepon internasional dari seseorang di masa lalunya, menawarkan kesempatan bagi Amir untuk memperbaiki kesalahan masa lalunya. Tidak dengan mudah tentunya, karena untuk melakukannya Amir harus meninggalkan kenyamanan Amerika untuk kembali ke Afghanistan. Bukan Afghanistan yang dulu Amir kenal, tapi Afghanistan yang sudah porak poranda oleh perang saudara panjang dan saat itu sedang dikuasai rezim Taliban. Perjalanan kembali Amir menjadi perjalanan yang merubah hidupnya. Amir mempertaruhkan hidupnya, mencoba menghapus dosa masa lalunya, menemukan kebenaran-kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya, dan berjuang menghadapi konsekuensi perbuatannya dahulu demi sebuah masa depan yang berbeda. Dalam perjalanan itu juga Amir menemukan Tuhannya, yang selama ini dia tinggalkan. Tuhan yang dia sadari menjadi satu-satunya harapan ketika dirinya putus asa dan tak berdaya Jarang sekali sebuah novel bisa membuat gue menangis, hebatnya Kite Runner membuat gue beberapa kali menangis (cengeng banget sih..boy's dont cry gitu lho). Novel ini mengajukan pertanyaan penting, "ketika kita sadar kita sudah melakukan sebuah kesalahan besar, beranikah kita mengambil risiko untuk mempertaruhkan segalanya ketika ada kesempatan untuk memperbaikinya ?" juga "sejauh mana kita siap bertindak benar ?" Tak hanya bertanya, Kite Runner juga menjawab pertanyaan itu dengan mengulang-ulang pesan "selalu ada jalan untuk kembali pada kebaikan" . Mungkin jalan itu menanjak, atau tersembunyi di balik rumpun berduri, atau malah begitu lurus dan lengang tapi kita yang memilih untuk berpaling. Terus gue nangis karena Afghanistan yang dulu indah, Afghanistan yang hancur oleh perang, Afghanistan yang dikoyak bara kebencian etnis dan sektarian, Afghanistan yang kini terjajah dan terlunta..itu negeri Islam. Yang bikin gue tambah sedih adalah si penulis yang orang Afghan menumpahkan kebencian luar biasa terhadap rezim Taliban, begitu fasihnya cara dia melukiskan kekejian Taliban sehingga gue yakin banyak pembaca yang bergidik dan punya alasan kuat untuk membenci segala sesuatu yang menjadi identitas Taliban. Gue juga nangis mikirin kekejian yang harus dihadapi anak-anak yang diceritakan dalam novel ini. Membayangkan harus tumbuh dengan membawa luka yang mungkin tak akan pernah sembuh. Sedih gue memikirkan generasi seperti apa yang akan lahir dari anak-anak yang mungkin tak pernah mengenal kata bahagia. The Kite Runner adalah sebuah novel indah, sarat makna, n sekali lagi bikin gue nangis ...beli deh :D |
|
May 10th, 2006
Surat Ahmadinejad untuk Soeharto POSTED AT 05:01 PM Lho, Ahmadinejad kan ngirim suratnya buat Mr. Bush ? Iya sih tapi bagian ini cocok juga dibaca oleh Pak Harto dan semua kampret-bajingan-sontoloyo yang tiba-tiba kompak bilang kita harus mengingat jasa-jasa Pak Harto The people will scruitinize our prsidenciesDid we manage to bring peace, security and prospertity for the people or insecurity and unemployment ? Did we intend to establish justice, or just supported special interest groups, and by forcing many people to live in poverty and hardship, made a few people rich and powerful-thus trading the approval of the people and the Almighty with theirs? Did we defend the rights of the underprivileged or ignore them? ... Did we tell the truth to our nation and others around the world or presented an inverted version of it ? Were we on the side of people or the occupiers and oppressors? ... And finally, they will judge on us whether we remained true to our oath of office-to serve the people, which is our main task, and the traiditions of the prophets-or not? Transkrip lengkap surat Ahmadinejad bisa dibaca di http://www.cnn.com/interactive/world/0605/transcript.lemonde.letter/ |
|
May 1st, 2006
Dialog 4 Potong Pizza POSTED AT 09:21 AM Hari itu semua divisi TSRS makan siang di resto Pizza Hut di SCBD. Semua ditraktir Sugi, salah satu senior1 yang mulai Mei nanti pindah ke Philip Morris. Dimanapun di negeri ini, kesempatan makan gratis terlalu menggiurkan untuk dilewatkan. Jangan heran kalau undangan makan gratislah satu2nya cara mengumpulkan semua personil TSRS yang tersebar di klien-klien.
Dateng agak terlambat bareng temen2 dari Telkomsel, gue milih untuk duduk di meja yang udah ada si Akbar, Fauzan, n Arief (background check: tiga2nya angkatan 99 n udah setahun lebih dulu di EY; Akbar anak Unpad, Fauzan n Arief medok karena orang Yogya n lulusan UGM). "Piye Pertamina ? wis beres ? lama nih kita ngga ketemu" tanya gue sambil memperhatikan konfigurasi piring di atas meja yang menegaskan kalo gue udah ketinggalan appetizer."Udah ngga keluar kota lagi bos, gue sama Fauzan sekarang tinggal ngerjain di hilir," jawab Arief sambil mainin garpu. "Anjar di Jayapura ya ?" gue nanyain temen seangkatan gue di EY yg dulu seangkatan juga di SMA. "Iya dapet Jayapura sama si Willy, kalo Amir sekarang lagi di Pangkalanbrandan," imbuh Fauzan. "Wah, enak ya pada jalan-jalan. Gue dapetnya Jakarta terus nih...bosen,pengen banget liat suasana baru" gue mengeluh sambil bertanya dalam hati kapan makannya nih. "Lah, Telkomsel ngga keluar kota? kan regional juga diaudit," tanya Arief. "Ngga, gue kebagian jaga markas terus, mas ini nih yang besok ke regional," jawab gue sambil nunjuk ke Irfan. "Tenang aja, nanti juga loe kebagian ke daerah. Lagian ngga enak lagi ke daerah...bikin gemuk," jawab Irfan Sementara, setelah menunggu beberapa menit akhirnya loyang pertama datang juga. Tidak butuh waktu lama bagi 4 orang auditor lapar untuk menyantap potongan pertama, untuk kemudian bersusulan memindahkan potongan pizza kedua dari loyang ke piring. "Gimana Zan ? tanggal 7 psikotes ? loe ngelamar BI kan ?" tanya Arief. "Tes dong bos, gile... jakarta aja ada 11000 yang tes," jawab Fauzan. "Kayaknya banyak nih anak EY yang daftar, yg gue tahu si Hardiyan kemaren juga daftar," gue nimbrung sambil motong pizza. "Wah, akeh tenan. Lha wong pas hari deadline itu kantor pos BEJ penuh sama anak EY bawa amplop," tukas Fauzan disambut riuh tawa yang laen. "Abis gimana man..istriku kemaren keterima di Star Energy jadi finance, mau tahu starting salarynya berapa ? segini nih.." Fauzan mengangkat 7 jari tangannya (background check: Fauzan nikah selepas lulus, dengan cinta pertamanya di bangku kuliah ) "Gara2 itu aku harus mengocok ulang nasib. Dengan kondisi sekarang, sebagai laki2 apa coba yang kubanggain..gaji gedean istriku, rumah masih numpang mertua, mobil juga dari dia," lanjut Fauzan sedikit menerawang. "Aku mau cerita nih.... Mertuaku kan pejabat BPKP, kalo olahraga senengnya golf atau tenis. Nah, ceritanya biar aku keliatan olahraga juga, aku kemaren bawa raket bulutangkisku dari yogya. yonex asli yang dulu harganya sejutaan bekas aku masih di klub. Nah, pas aku maen bulutangkis sama istriku di pekarangan, ibu mertuaku komentar.." Wah nak Fauzan, di sini biasanya yang maen bulutangkis cuma Ijah sama Iyem..." Spontan kami yang laen langsung meledak dalam tawa, sedikit simpati sih..tapi tetep ketawa..lucu sih. "Makanya aku serius daftar BI nih, tahun lalu aku ngga bisa ikut tesnya karena lagi di klien, sekarang beneran ngarep masuk nih.."lanjut Fauzan. "Iya ya gaji gede, pulang jam 4, disekolahin ke luar..." Irfan mendaftar manisnya BI sesuai cerita dari mulut ke mulut yang beredar. "Di Pertamina juga tuh, kayaknya sante banget kerja. Aku dateng lagi pada maen game, diwawancara cuma pause aja. Dateng lain kali diliatin porno..." Arief nambahin. "Loe ngga daftar BI, To? " tanya Arief. "Hehehe, saat ini belum tertarik bos...alesannya agak susah dijelasin," jawabku sambil cengengesan. Lagi asyik ngobrol, loyang kedua datang. Dengan senang hati kami bergantian mengambil potongan pizza ketiga kami hari itu. Tiba-tiba Fauzan bersiul sambil melihat keluar jendela. Spontan kami menengokkan kepala ke arah pandangan Fauzan. Sejenak perhatian kami seorang gadis tinggi, putih, cantik, tak pernah susah sepanjang hidupnya sedang berjalan santai dengan rok mini yang memperlihatkan jelas jenjang kakinya. "Begini ini pria beristri..." Arief memecah konsentrasi ![]() "Wah harusnya dilarang tuh kerja dengan pakaian begitu. Mengurangi produktivitas rekan sekerja laki-laki, berapa banyak coba yang jadi daydreaming tiap hari..." kata gue sambil bersiap lanjut ke potongan keempat. "Ya tergantung kerjaannya juga sih To, kalo industrinya marketing, atau marketing, atau hospitality. Di mereka mah biasa mungkin baju seperti gitu..." kata Irfan "Tapi tetep aja, kalo kerja di tempat yang ceweknya semuanya kayak tadi bisa pusing gue..." kata gue sambil membayangkan. "Makanya lo dikasih kerja di Ernstennyoong, yang cewek2nya...ya gitu deh..," lagi2 Fauzan mengundang tawa. "Eh..To yunior2 loe tuh " kali ini Arief menunjuk keluar jendela. Beberapa anak muda (halah..) nampak berjalan dari arah BEJ sambil menenteng jaket kuning. "Oh bukan, anak Poltek itu..." kata gue terigat dua bis kunig bertuliskan Poltek yang gue lihat di lapangan parkir."Abis pada dari mana ya ?" "Dari kantor EY kali..study visit ..."kata Fauzan. "Ngapain ke kantor EY, apa yang mau dilihat ?" tanya Arief bingung. "Ngeliat perbudakan terakhir di zaman modern..." jawab Fauzan sekali lagi membuat kami meledak dalam tawa. "Another day in the firm, guys...another day in the firm," kata gue sambil menyuap cuil terakhir potongan pizza keempat. |
|

